Pertanian tradisional dalam berbagai
bentuk, yang telah dilakukan sejak ribuan tahun di seluruh dunia, merupakan
pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sintetik. Pertanian dengan
memanfaatkan ekologi hutan(kebun
hutan, forest gardening) merupakan salah satu sistem
produksi pangan pada masa prasejarah yang dipercayai merupakan
pemanfaatan ekosistem pertanian yang
pertama.
Pupuk sintetis telah dibuat pada abad ke 18,
berupa superfosfat.
Lalu pupuk berbahan dasar amonia mulai
diproduksi secara massal ketika proses Haber dikembangkan semasa Perang Dunia I. Pupuk ini murah, bernutrisi,
dan mudah ditransportasikan dalam bentuk curah. Perkembangan juga terjadi pada pestisida kimia pada tahun 1940an, yang
memicu penggunaan bahan kimia pertanian secara
besar-besaran di seluruh dunia.[4] Namun sistem pertanian baru
yang mulai berkembang ini membawa dampak serius secara jangka panjang pada
pemadatan tanah, erosi, penurunan kesuburan tanah secara keseluruhan, juga
dampak kesehatan pada manusia akibat bahan kimia beracun yang masuk ke bahan pangan.
Para pakar biologi tanah mulai mengembangkan teori
mengenai bagaimana ilmu biologi dapat
digunakan pada pertanian untuk menanggulangi dampak negatif bahan kimia
pertanian tanpa mengurangi hasil produksi pertanian. Biodinamika
biologi berkembang pada tahun 1920an dan menjadi versi awal
dari pertanian organik yang dikenal sekarang. Sistem ini berdasarkan
filosofi antroposofi dari Rudolf
Steiner.
Pada tahun 1930an dan awal 1940an, pakar botani terkemuka Sir
Albert Howard dan istrinya Gabriel
Howardmengembangkan pertanian organik. Howard terinspirasi dari
pengalaman mereka mengenai metode pertanian tradisional di India, pengetahuan
mereka mengenai biodinamika, dan latar belakang pendidikan mereka. Sir Albert
Howard dapat dikatakan sebagai "bapak pertanian organik" karena ia
yang pertama kali menerapkan prinsip ilmiah pada berbagai metode pertanian
tradisional dan alami.
Meningkatnya kesadaran lingkungan secara umum
pada populasi manusia pada masa modern telah mengubah gerakan organik yang
awalnya dikendalikan oleh suplai, kini dikendalikan oleh permintaan pasar.
Harga yang tinggi dan subsidi dari pemerintah menarik perhatian
petani. Di negara berkembang, berbagai produsen pertanian yang bekerja dengan
prinsip tradisional dapat dikatakan setara dengan pertanian organik namun tidak
bersertifikat dan tidak mengikuti perkembangan ilmiah dalam pertanian organik.
Sehingga beberapa petani tradisional dapat berpindah menjadi petani organik
dengan mudah, yang terdorong oleh alasan ekonomi
Metode
Pertanianorganikmengkombinasikanpengetahuan
ilmiah mengenai ekologi dan teknologi modern mengenai praktik pertanian
tradisional berdasarkan proses biologis yang terjadi secara
alami. Metode pertanian organik dipelajari di dalam bidang ekologi pertanian. Pertanian konvensional
menggunakan pestisida dan pupuk sintetik, sedangkan pertanian organik
membatasinya dengan hanya menggunakan pestisida dan pupuk alami. Prinsip metode
pertanian organik mencakuprotasi tanaman, pupuk hijau/kompos, pengendalian
hama biologis, dan pengolahan tanah secara mekanis.
Pertanian organik memanfaatkan proses alami di dalam lingkungan untuk mendukung
produktivitas pertanian, seperti pemanfaatan legum untuk mengikat nitrogen ke
dalam tanah, memanfaatkan predator untuk
menaggulangi hama, rotasi tanaman untuk mengembalikan kondisi tanah dan
mencegah penumpukan hama, penggunaan mulsa untuk
mengendalikan hama dan penyakit, dan pemanfaatan bahan alami, termasuk mineral
bahan tambang yang tidak diproses atau diproses secara minimal, sebagai pupuk,
pestisida, dan pengkondisian tanah. Tanaman yang lebih unggul dan tangguh
dikembangkan melalui pemuliaan tanaman dan tidak dimodifikasi
menggunakan rekayasa genetika.
Keanekaragaman hayati
Tingginya keanekaragaman tanaman pertanian adalah
salah satu penciri pertanian organik. Pertanian konvensional fokus pada produksi massal hasil pertanian tunggal
di lahan, yang disebut dengan monokultur. Dalam ekologi pertanian diketahui bahwa polikultur (penanaman berbagai jenis
tanaman pada satu ahan) lebih menguntungkan dan lebih sering diterapkan di
pertanian organik.[16] Penanaman berbagai jenis
sayuran mendukung berbagai jenis serangga yang bersifat menguntungkan,
mikroorganisme tanah, dan faktor lainnya yang menambah kesehatan lahan
pertanian. Keanekaragaman tanaman pertanian membantu lingkungan untuk
mempertahankan suatu spesies yang dekat dengan lahan pertanian agar tidak
punah.
Pengelolaan tanah
Pertanian organik bergantung sepenuhnya pada
dekomposisi bahan organik tanah, menggunakan berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi yang
hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini
dikendalikan oleh berbagai mikroorganisme seperti mikorizayang memungkinkan terjadinya produksi
nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam. Pertanian organik
mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan tanah, termasuk rotasi tanaman,
pemanfaatan tanaman penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos.
Dengan mengurangi pengolahan tanah,
maka tanah tidak dibalik dan tidak terpapar oleh udara. Hal ini berarti nutrisi
yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon semakin sedikit yang
menghilang.
Tumbuhan membutuhkan berbagai nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan nutrisi
mikro lainnya serta hubungan simbiosis dengan fungi dan
organisme lainnya untuk berkembang dengan baik. Sinkronisasi diperlukan agar
tumbuhan mendapatkan nitrogen yang cukup pada waktu yang tepat. Hal ini menjadi
salah satu tantangan di dalam pertanian organik. Residu
tanaman dapat dikembalikan ke tanah sehingga membusuk dan
memberikan nutrisi bagi tanah. Dalam banyak kasus, pengaturan pH diperlukan
dengan menggunakan kapur
pertanian dan sulfur.
Lahan usaha tani yang tidak memiliki
usaha peternakan di dalamnya mungkin akan lebih sulit dalam mengembalikan
kesuburan tanah dan membutuhkan inputkotoran dari luar untuk digunakan sebagai
sumber nitrogen yang baik. Namun nitrogen juga dapat diberikan dengan
menggunakan legum sebagai tanaman penutup tanah
Penelitian dalam ilmu biologi pada tanah dan
mikroorganisme yang hidup di dalamnya telah membuktikan manfaat bagi pertanian
organik. Berbagai jenis bakteri dan fungi memecah bahan kimia, residu tanaman,
dan kotoran hewan menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tumbuhan, sehingga
tanaman pertanian menjadi produktif.
dapat di baca disini juga https://drive.google.com/open?id=1JE2-uxnktCsJKp9B0GuqFYqa6-t3Er2o
Untuk lebih lengkap lagi dapat klik link berikut ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_organik








0 komentar:
Posting Komentar